Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarrokatuh
Bagaimana kabar pengunjung setia Cahaya Aurora, Semoga tetap dalam perlindungan Allah serta kesehatan agar bisa melaksanakan kewajibanNya
Baik kali ini kami akan membahasa tentang KEBAHAGIAN, simak penjelasan dibawah ini
Bahagia seolah telah menjadi “hewan buruan” semua manusia di Bumi. Demi mendapatkan apapun yang diharapkan semisal harta serta tahta manusia rela melakukan sesuatu dengan maksud untuk mencapai ‘kenikmatan/kebahagiaan.’ Meski kenyataannya uang sebanyak apapun yang dmiliki tak akan bisa membeli kenikmatan/kebahagiaan. Karena sejatinya bahagia berada padahati yang taat kepada Allah SWT.
Harta melimpah dan tingginya jabatan bukan jaminan seseorang hidup bahagia. Bisa jadi karena dua hal tersebut, seseorang malah menjadi tidak bahagia .
| copyright fujarukhan |
ada enam hal yang menjadikan penyebab mengapa seseorang sampai tidak menemukan kebahagia. Apa sajakah itu?
Pertama seseorang tidak akan pernah menemukan kebahagiaan karene terlalu banyak yang diharapkan. Dengan kata lain, ia tidak mempunyai tujuan dalam hidupnya. Kebanyakan orang itu, lebih mementingkan gaya hidup daripada kebutuhan hidup.
Banyak sekali perintah dari al Quran dan hadis yang melarang seseorang mengikuti semua hawa nafsunya. Allah SWT berfirman yang artinya, “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (Qs. Al-Mu’minun (23): 71).
Kedua, manusia tidak bahagia karena sering merasa tak puas dengan keadaan dan tak sanggup menerima kenyataan hidup. Semua ini membuat orang larut dalam kekecewaan, menyalahkan bahkan mengkambinghitamkan orang lain, dan lebih sadis lagi menyalahkan takdir.
Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari No. 6438).
Ketiga, manusia tidak akan bahagia karena terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang yang lebih tinggi, sehingga selalu dan selalu merasa kurang dan merasa Allah SWT tidak adil terhadapnya.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasūlullāh SAW bersabda, “Lihatlah kepada yang di bawah kalian, dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian; sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat yang Allāh berikan kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
| Copyright pic |
Keempat, manusia tidak merasa bahagia karena mencintai kesempurnaan bukan keutuhan, sehingga sulit menerima kekurangan diri sendiri dan orang lain dan tidak siap menerima perubahan akan sesuatu yang dianggap sempurna..
Dari Umar Bin Khattab ra beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW perah berkata kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari (sarangnya) dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
Kelima, manusia tidak menemukan kebahagia karena terlalu terlau mencintai kesenangan hidup dan tidak siap menghadapi kesulitan, sehingga ia tidak memiliki keterampilan diri dan keahlian untuk menghadapi aneka masalah. dinamika kehidupan.
Tentang sifat dasar manusia yang mencintai kesenangan hidup ini, Allah SWT berfirman dalam Quran yang artinya, “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Thaha : 131).
Keenam, kebanyakan manusia tidak menemukan kebahagia karena ia sering berburuk sangka atau su'udzon kepada Yang Maha Menentukan, selalu menerka-nerka yang akan terjadi, cemas, gelisah dan takut, sehingga kepercayaan dan keyakinannya kepada Allah SWT goyah bahkan hilang samasekali. Naudzubilahi min dzalik
Berburuksangka (Su'udzon) adalah sifat buruk manusia yang bisa menjadi racun dalam kehidupannya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda bersabda, “Jauhilah oleh kalian berprasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya prasangka itu adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penawar dari enam racun dunia tersebut adalah bersyukur yang merupakan rahasia terbaik untuk hidup bahagia. Bersyukur berarti berterima kasih kepada siapa saja yang memberi sesuatu yang baik. Bersyukur kepada Allah SWT berarti berterima kasih atas segala kesempatan hidup dan menikmati segala limpahan nikmat yang telah diberikan. Namun, sedikit sekali manusia yang mau bersyukur. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirma yang artinya, “Hanya sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Qs. Saba’:13).
Jangan Lupa Suport Kami, Klik Link dibawah ini 👇
0Komentar