TSriTfr5GfYoTfYlBSW8GSMiTA==

KALIMAT THAYYIBAH MEMBUAT MANUSIA BERAKHLAK MULIA

 


    Kalimat thayyibah bacaan dzikir kepada Allah sudah menjadi rutinitas kita baca setiap hari sebagai hamba yang taat beribadah. Bacaan dzikir ini biasa dibaca setiap saat, dalam shalat, sesudah shalat, doa pagi dan petang.

    Membaca Kalimat thayyibah dzikir kepada Allah akan menjadikan kita berakhlak mulia,  baik berhubungan dengan Allah,  berhubungan dengan sesama manusia,  maupun berhubungan dengan lingkungan jika Kalimat thayyibah ini kita terapkan dalam bentuk sikap  sehari-hari sebagai amal shalih. Berikut kalimat dzikir yang sudah biasa kita baca:

1. Bacaan tasbih:

سُبْحَانَ اللهِ

Artinya, Maha Suci Allah. 

    Allah SWT menciptakan alam semesta ini  dengan sempurna dan semua yang ada di alam semesta ini berguna dan bermanfaat bagi semua makhlukNya. Semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia.  Disebutkan dalam Firman Allah:

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ﴿١٩١﴾

    "(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." (Q.S.3, Ali Imran:191)

    Berdasarkan ayat di atas, kita harus menjadi orang yang cerdas dan disuruh untuk berpikir tentang ciptaan Allah. Kita harus aktif dan kreatif dalam mengelola ciptaan Allah sehingga menjadikan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungannya.

      Ketika manusia tidak mampu mengelola alam dengan baik, tidak menjaga sistem keseimbangan lingkungan alam sekitar, bahkan mereka membuat kerusakan di bumi ini, maka mereka akan mendapat bencana akibat perbuatan mereka yang salah. 

Disebutkan dalam Firman Allah:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ۝

    Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar-Rum: 41)

2. Bacaan Tahmid. 

وَالْحَمْدُ لِلهِ

Artinya,  Segala puji bagi Allah. 

      Bacaan tahmid merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas segala nikmat yang telah kita terima. *Sebagai tanda rasa syukur kepada Allah adalah menggunakan nikmat untuk menjalankan perintah Allah dan menjauuhi laranganNya.

      Kita dilarang kufur nikmat yaitu menggunakan nikmat Allah untuk berbuat keburukan agar tidak mendapat siksa yang pedih. 

Disebutkan dalam Al-Qur'an:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ ﴿٧﴾

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat."" (Q.S.14 Ibrahim:7) 

3. Bacaan Tahlil.

 لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Artinya,  Tidak ada Tuhan selain Allah. 

      Bacaan Tahlil merupakan ungkapan kesaksian kita bahwa tidak ada Tuhan yang kita sembah selain Allah. Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. 

      Kita dilarang melakukan perbuatan syirik yaitu menyekutukan Allah. Kita dilarang meyakini adanya kekuatan atau sumber kebaikan selain dari Allah. Allah tidak mengampuni dosa musyrik. Disebutkan dalam Al-Qur'an:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا ﴿١١٦﴾

    "Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali. (Q.S.4 An Nisa':116) 

4. Bacaan Takbir

اللهُ أَكْبَرُ

Artinya,  Allah Maha Besar. 

Bacaan takbir merupakan ungkapan untuk mengagungkan Allah. Kita meyakini semua sifat Allah yang terdapat dalam Asmaul Husna adalah bukti kesempurnaan Allah yang dapat kita rasakan sebagai orang yang beriman. Tidak ada apapun yang setara, menyamai dan menandingi  Allah. Oleh karena itu tidak ada yang kita sombongkan, kita harus bersikap rendah hati, saling menghargai, saling menghormati, saling memaafkan dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Disebutkan dalam Al-Qur'an:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿١١﴾

    "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. " (Q.S.49 Al Hujurat:11)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢﴾

    "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. " (Q.S.49 Al Hujurat:12)


5. Bacaan Lahaula

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Artinya,  Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

      Bacaan tersebut merupakan ungkapan berserah diri kepada Allah setelah beraktifitas berikhtiar dalam urusan dunia dan akhirat dan setelah berdoa. Kita meyakini bahwa manusia berencana dan melakukan rencana itu serta optimis akan keberhasilannya, tetapi semua keputusan tetap di tangan Allah sesuai kehendakNya. Kita meyakini bahwa semua kehendak dan keputusan Allah adalah hal yang terbaik. 

Disebutkan dalam Al-Qur'an:

إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَٰهُ بِقَدَرٍ ﴿٤٩﴾

"Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. " (Q.S.54 Al Qomar:49)

      Terkait dengan qodho dan qodar Allah, semua yang telah terjadi baik yang menyenangkan maupun menyusahkan sudah tertulis jauh sebelum peristiwa terjadi. Ketika peristiwa yang telah terjadi pada diri kita itu menyenangkan, kita wajib bersyukur dan tidak boleh sombong dan ketika peristiwa yang telah terjadi itu menyusahkan, kita wajib bersabar, ikhlas dan tidak mengeluh. Disebutkan dalam Al-Qur'an;

. مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ ﴿٢٢﴾

    "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. " (Q.S.57 Al Hadid:22)

      Diantara bentuk tawakal  kepada Allah, kita meyakini semua milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah. Kita akan mendapat rahmat Allah dalam bentuk yang lain terutama balasan kebaikan ketika di akhirat. Di dunia kita selalu dalam bimbingan Allah dan mendapat petunjuk sehingga selalu pada jalan yang benar. Disebutkan dalam Al-Qur'an:

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ﴿١٥٦﴾

    "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn" (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." (Q.S.2 Al Baqarah:156)

أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ ﴿١٥٧﴾

"Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.S.2 Al Baqarah:157)

      Terkait dengan sumber kebaikan dan keburukan, semua kebaikan berasal dari Allah dan keburukan berasal dari manusia. Dosa , maksiat, dan keburukan terjadi karena pilihan manusia. Manusia layak diminta pertanggung jawabannya. Keburukan disandarkan kepada manusia karena mereka menjadi sebabnya meskipun semuanya tetap dalam kehendak Allah. 

Disebutkan dalam Al-Qur'an:

مَّآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا ﴿٧٩﴾

    "Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi." (Q.S.4 An Nisa':79)

Mengapa Allah menakdirkan kejelekan?

Karena ada hikmah di balik itu seperti:

a. Agar kebaikan dapat dikenal

b. Supaya manusia menyandarkan diri kepada Allah;

c. Supaya manusia bertaubat kepada-Nya setelah ia berbuat dosa;

d. Banyak meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan dengan berdzikir dan berdoa;

e. Ada maslahat besar di balik kesulitan atau musibah yang menimpa.


 SEMOGA BERMANFAAT,  AAMIIN YAA ROBBAL'ALAMIIN

0Komentar

Special Ads