TSriTfr5GfYoTfYlBSW8GSMiTA==

MATERI PENGERTIAN SHOLAT JUM'AT, SHOLAT DHUHA DAN SHOLAT TAHAJUD

 

                                            


                                                PENGERTIAN SHOLAT JUM'AT

    Shalat Jumat termasuk Ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, atau yang dikenal fardlu ain. Berkaitan dengan nama ‘Jumat’, al-Ârifbillâh Syekh Abdul Qadir bin Abi Shalih al-Jilani (wafat 561 H) dalam karyanya al-Ghunyah menjelaskan beberapa pendapat seputar asal muasalnya.  

    Pendapat pertama, berdasarkan hadits riwayat sahabat Salman ra menyatakan, karena di hari itulah bapak umat manusia, Nabi Adam as diciptakan. Pendapat kedua mengatakan, akar kata ‘Jumat’ adalah ijtima’ (penyatuan), yang mana raga Nabi Adam as diberi ruh di hari itu setelah selama 40 hari tanpa nyawa sejak diciptakan. Pendapat ketiga beralasan, karena hari Jumat adalah hari di mana Nabi Adam as bertemu dengan Sayyidah Hawa pertama kali di surga setelah Allah menciptakannya. Pendapat keempat mengatakan, bukan demikian, melainkan lantaran Nabi Adam as dan siti Hawa berjumpa di hari Jumat setelah lama terpisah sejak diturunkan ke dunia. Sebab peristiwa-peristiwa tersebutlah hari Jumat menjadi sangat mulai. (Abdul Qadir bin Abi Shalih al-Jilani, al-Ghunyah li Thâlibî Tharîqil Haqq ‘Azza wa Jalla fil Akhlâq wat Tashawwuf wal Âdâb al-Islâmiyyah, juz II, halalaman 109).  

DALIL BERKAITAN DENGAN SHOLAT JUM'AT

Diantara Hadist yang menerangkan terkait sholat jum'at antara lain :

Hadis Pertama

“Siapa pun yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali karena meremehkannya, maka Allah ta’âlâ akan mengecap )menutup( hatinya (sehingga tak mampu menerima hidayah).” (HR Ahmad dan al-Hakim. Hadits hasan).

Hadis Kedua

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia wajib shalat Jumat pada hari Jumat, kecuali bagi orang sakit, musafir, anak kecil, atau budak. Barangsiapa yang mengacuhkan shalat Jumat karena lalai atau sibuk urusan perniagaan, maka Allah tak akan memperhatikannya, Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (HR al-Baihaqi)

    Karena ketegasan teks-teks syariat yang memerintah shalat Jumat, Syekh Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’în mengatakan, ‘Wa shalâtuha afdhalu al-shalawât’, (Shalat Jumat adalah shalat yang paling utama di antara shalat lainnya). (Zainuddin bin Abdil Aziz al-Malibari, Fathul Mu’în pada Hâsyiyyah I’ânatut Thâlibîn, [Indonesia, al-Haramain], juz II, halaman 52). 

Demikian halnya hari Jumat, ia termasuk hari paling mulia dibandingkan hari lainnya dalam sepekan. Abu Hurairah ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw:

“Hari terbaik di mana matahari terbit di hari itu adalah hari Jumat, pada hari itulah Nabi Adam as diciptakan, hari itu ia dimasukkan ke surga dan dikeluarkan dari sana, dan hari Jumat adalah hari tibanya kiamat.” (HR Ahmad)

                                                Kisah Rasulullah ketika perjelanan Hijrah

kalian ingat kisah perjalanan hijrah Nabi saw. dari Makkah ke Madinah?

Rasul saw. mendirikan salat jumat pertama dalam perjalanan hijrah. Beliau bersama rombongan melanjutkan perjalanan setelah beberapa hari tinggal di Quba dan membangun Masjid Quba. Ketika itu hari Jumat pagi. Sebelum sampai di Madinah, waktu salat Jumat telah tiba. Rasul saw. bersama rombongan mendirikan salat Jumat di perkampungan Bani Salim bin Auf. Tepatnya di sebuah lembah (Wadi) ar-Ranuna.

Sekarang di tempat ini terdapat masjid yang diberi nama “Masjid alJum’ah.” Sebelum Nabi saw. tiba di Madinah, kaum muslim telah mendirikan salat Jumat. Salat Jumat ini dipimpin oleh Abu Umamah As’ad bin Zararah. Abu Umamah adalah salah seorang dari dua belas orang yang melakukan baiat Aqabah II.

    Bila tidak karena kemuliaan hari Jumat, tidak mungkin rasanya Allah mengabadikan momen-momen bersejarah (awal mula dan penutup kehidupan) di hari tersebut. Sampai-sampai, malaikat sendiri menyebut hari Jumat dengan yaumul mazîd (hari bonus besar-besaran), sebab, di hari inilah Allah membuka sekian banyak pintu kasih sayang, karunia, dan kebaikan-Nya.

NIAT SHOLAT JUM'AT 

    Niat shalat Jumat ada dua, berdasarkan status orang yang shalat sebagai makmum atau imam.  Kalau sebagai makmum, maka niatnya:

Ushallî fardha jumu’ati rok'ataini mustaqbilal qiblati adaan (imaman) ma’mûman lillâhi ta’âlâ.

    Demikian pula bila seseorang terlambat menuju shalat Jumat dan ia tidak sempat melakukan satu rakaat bersama imam—dengan batasan ia tidak sempat ruku’ bersama imam di rakaat kedua—maka ia harus menyempurnakan shalatnya menjadi shalat Dhuhur empat rakaat, meskipun niatnya tetap niat shalat Jumat.

WAKTU PELAKSANAAN SHOLAT JUM'AT

    Sebenarnya waktu pelaksanaan shalat Jumat sama persis dengan shalat Dhuhur, yaitu sejak tergelincirnya matahari sampai bayangan suatu benda menjadi sepanjang bendanya. Namun, ada beberapa ketentuan yang penting dicatat di sini. Di antaranya, ketika waktu tidak cukup untuk melakukan dua rakaat dan dua khutbah, atau sekadar ragu bahwa waktunya tidak cukup, maka harus disempurnakan menjadi shalat Dhuhur. Demikian juga saat waktu Dhuhur benar-benar diyakini telah usai, atau sekadar menduga kuat saja bahwa telah usai, maka wajib menyempurnakannya menjadi shalat Dhuhur.  

Tiga Kategori Syarat Shalat Jumat 

Shalat Jumat mempunyai tiga kategori syarat, yaitu syarat wajib, syarat sah dan syarat in’iqâd, sebegaimana penjelasan berikut.    

Pertama, syarat wajib. Yaitu sifat-sifat yang melekat pada diri seseorang yang mana wajib dan tidaknya shalat Jumat tergantung pada ada dan tidaknya sifat tersebut. 

Syarat wajib Jumat ada tujuh, yaitu: 

1. Beragama Islam.
2. Baligh,
3. mencapai usia 15 tahun, atau telah mengalami ihtilâm (mimpi basah).
4. Berakal sehat.
5. Merdeka, syarat ini hanya berlaku di masa ada perbudakan dahulu.
6. Laki-laki. Sehat.
7. Bermukim.   

Terkait syarat terakhir, sebenarnya dalam bab shalat Jumat kita dikenal dua istilah, muqîm (orang yang bermukim) dan mustauthin (orang yang berdomisili). Makna kata domisili di sini berbeda dengan makna yang sering dopahami biasanya. 

Kedua, syarat sah. Sah dan tidaknya shalat Jumat tergantung apakah syarat-syarat sahnya terpenuhi atau tidak. Untuk hal ini, sama persis dengan syarat sah shalat Dhuhur dan shalat lainnya, hanya ada enam syarat tambahan yang membuatnya berbeda. Berikut rinciannya:   

1. Waktu pelaksanaannya yang terhitung sejak masuk waktu Dhuhur hingga tiba waktu Ashar. Karena itu, bila shalat Jumat yang dilakukan belum usai hingga tiba waktu Ashar, maka shalatnya harus disempurnakan menjadi shalat Dhuhur tanpa mengubah niat.
2. Tempat pelaksaanannya adalah sekitar pemukiman. Baik pemukiman itu terdiri dari bangunan kayu atau tumpukan batu-bata saja. Jelasnya, shalat jumat tidak boleh dilaksanakan di selain sekitar pemukiman, seperti di padang sahara. Sebab, sejak masa Nabi saw sampai masa Khulafâ’ Râsyidûn shalat Jumat tidak dilakukan di luar pemukiman.
3. Jumlah jamaahnya harus mencapai 40 orang sebagai batas minimal, dengan kriteria berjenis laki-laki, mukalaf, merdeka, dan bermukim di daerah tersebut. Bilangan 40 adalah yang disepakati oleh mayoritas ulama.
4. Dilakukan secara berjamaah. Karenanya, bila 40 orang shalat sendiri-sendiri dalam satu masjid, misalnya, maka tidak sah. Berbeda dengan seorang masbuk yang menyempurnakan rakaat keduanya sendirian, shalat Jumatnya tetap sah. Sebab, ia terhitung berjamaah.
5. Tidak boleh terdapat dua jamaah shalat Jumat dalam satu daerah, kecuali tidak ada tempat yang cukup menampung seluruh jamaah, meskipun bukan masjid atau meskipun tanah lapang. Jika masih bisa berkumpul dalam satu tempat, dan ternyata tetap dilaksanakan dalam dua, tiga, bahkan empat kelompok, maka yang sah adalah kelompok yang pertama kali melakukan takbîratul ihram.
6. Dilakukan setelah pelaksanaan dua khutbah Jumat yang memenuhi syarat dan rukunnya.    

Ketiga, syarat in’iqâd. Yaitu syarat yang menentukan shalat Jumat tersebut dapat menggugurkan kewajiban shalat Dhuhur jamaah yang lain atau tidak. Artinya, seseorang bisa saja shalat Jumatnya sah, namun tidak dapat menggugurkan kewajiban shalat Dhuhur jamaah lainnya, sehingga mereka harus melakukan shalat Dhuhur setelah itu.   

Lalu, Bagaimana dengan perempuan, anak-anak, dan orang yang sedang berada dalam perjalanan jauh? Apakah mereka wajib mengerjakan salat Jumat?

Tidak wajib mengerjakan salat Jumat bagi 

1) perempuan,
2) anak kecil,
3) orang yang sakit, dan
4) musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh (+ 85 km) untuk keperluan yang dibolehkan agama. Mereka tidak wajib 
mengerjakan salat Jumat namun tetap wajib melakukan salat Zuhur. Jika mereka ikut mendirikan salat Jumat, maka salatnya sah. Kewajiban salat Zuhur bagi mereka menjadi gugur.

Anak-Anak perempuan, kalian boleh ikut hadir di masjid dan mendirikan salat Jumat. Ingat, keinginanmu untuk hadir di masjid disesuaikan dengan keadaan di masjid sekitar tempat tinggalmu!

Apa saja persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan salat Jumat?

Jika hendak pergi salat Jumat, Rasul saw. menganjurkan kita untuk mandi, memakai pakaian yang paling baik dan minyak wangi. Mengapa? Tahukah kalian?

Yuk simak bagaimana tata cara salat Jumat?

1. Menyegerakan pergi ke masjid untuk salat Jumat.

2. Masuk ke masjid dengan mendahulukan kaki kanan dan berdoa. 
    Allahummaftah li abwabaka rahmatik


3. Menjaga adab di dalam masjid antara lain a) menjaga kebersihan dan tidak mengotori masjid dan b) tidak berdiam diri bagi orang yang sedang junub dan haid.

4. Dianjurkan melakukan salat sunah Tahiyatul Masjid. Salat Tahiyatul Masjid adalah salat dua rakaat yang dikerjakan sebagai penghormatan ketika kita memasuki masjid. Berikut niat salat Tahiyatul Masjid.

5. Dianjurkan melakukan salat sunah lain sebelum azan dikumandangkan.

6. Ketika masuk waktu salat Zuhur, muazin mengumandangkan azan. Bagaimana sikap kalian jika mendengar azan? Ada masjid dengan muazin yang mengumandangkan satu kali azan salat Jumat. Ada juga yang mengumandangkan dua kali azan.

Pada masjid yang mengumandangkan dua kali azan, setelah azan pertama, jamaah diberi kesempatan untuk melakukan salat sunah qabliyah Jumat. Selanjutnya muazin mengumandangkan azan kedua.

7. Khatib menyampaikan dua khutbah di atas mimbar sambil berdiri. Khutbah pertama dan kedua dipisahkan dengan khatib duduk. Ketika khatib duduk, jemaah dianjurkan untuk berdoa. Waktu antara dua khutbah termasuk waktu mustajab untuk berdoa. Setelah khatib selesai berkhutbah, muazin mengumandangkan ikamah.

9. Dalam pelaksanaan salat berjemaah, meluruskan dan merapatkan saf (barisan) merupakan keutamaan dan kesempurnaan salat berjemaah, termasuk dalam salat jemaah Jumat.

10. Salat Jumat dua rakaat dilaksanakan secara berjemaah dipimpin oleh seorang imam. 

11. Zikir dan berdoa sesudah salat Jumat. jumlah paling sedikit jamaah salat Jumat? Salat Jumat dilakukan secara berjemaah. Salat Jumat dinilai sah jika yang berjemaah sebanyak 40 orang. Mereka termasuk orang-orang yang wajib

salat Jumat. Sebagian ulama mencukupkan jumlah paling sedikit salat jemaah Jumat sebanyak 12 orang. Ada juga yang menyatakan cukup 3 orang. Betapa pentingnya salat Jumat. Kalian harus rajin mendirikan salat Jumat


Jangan Lupa Suport Kami, Klik Link dibawah ini 👇

https://msha.ke/cahayaaurora


                                                     PENGERTIAN SHOLAT DHUHA

Sholat Dhuha merupakan sholat sunnah yang dilakukan pada pagi hari ketika matahari mulai naik hingga menjelang waktu Dhuhur.

Bagi umat muslim, Sholat Dhuha merupakan ibadah tambahan yang istimewa karena merupakan warisan langsung dari Rasulullah SAW kepada para sahabat dan seluruh umat Islam.

KEUTAMAAN SHOLAT DHUHA

Keutamaan sholat Dhuha telah dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah SAW, salah satunya yang dinarasikan Abu Dzar:


يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Artinya: "Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (Subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (Alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (Laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma'ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka'at." (HR Muslim).

Tiga keutamaan lain dari sholat Dhuha:

1. Sholat Dhuha merupakan jalan akan rezeki, rahmat, dan nikmat Allah sepanjang hari. Rasulullah bersabda yang artinya: “Wahai anak Adam jangan sekali-kali engkau malas melakukan sholat 4 rakaat pada pagi hari niscaya nanti akan kucukupi kebutuhanmu hingga sore hari.” (H.R. Al-Hakim dan At-Tabrani, dakam Makhdlori 2012).

2. Sholat Dhuha sebagai pelindung dari api neraka. Rasulullah bersabda yang artinya: “Barang siapa yang melakukan sholat fajar, kemudian ia berdzikir hingga matahari terbit dan melakukan sholat 2 rakaat, niscaya Allah SWT akan mengharamkan api neraka menyentuh tubuhnya.” (H.R. Al-Baihaqi, dalam Makhdlori 2012).

3. Sholat Dhuha adalah jalan menuju surga. Rasulullah bersabda yang artinya: “Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha (puntu dhuha) dan pada hari kiamat nanti aka nada orang yang memanggil, “dimana orang yang senantiasa mengerjakan Sholat Dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.” (H.R. At-Tabrani, dalam Makhdlori 2012).

WAKTU TERBAIK UNTUK SHOLAT DHUHA

Dikutip dari buku Fiqh Bersuci dan Shalat sesuai Tuntunan Nabi, rentang waktu untuk melakukan Sholat Dhuha adalah satu menit setelah matahari terbit hingga 10 menit sebelum masuk waktu Dhuhur.

Namun yang terbaik waktunya adalah saat anak unta mulai kepanasan, yaitu pertengahan antara terbit matahari hingga masuk waktu Dhuhur.

صَلاَ ةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تـَرْمَضُ الْفِصَال

"Sholat awwabin (orang yang kembali kepada Allah) adalah pada saat anak unta mulai kepanasan." - H.R. Muslim dari Said bin Arqom

Contoh, jika seandainya matahari terbit adalah pada pukul 6 dan waktu Dhuhur adalah pada pukul 11.45, maka waktu terbaik melaksanakan Sholat Dhuha adalah pada pukul 9 pagi.

TATA CARA SHOLAT DHUHA

Sholat Dhuha bisa dilakukan secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah. Berikut tata cara sholat Dhuha lengkap dengan niat dan doanya:

1. Berwudu dan melakukan persiapan salat dengan memperhatikan kesucian badan, pakaian, dan tempat.

2. Kalian boleh membiasakan salat Duha berjemaah ketika di sekolah dengan guru dan teman-teman. Boleh juga berjemaah dengan orang tua di rumah. Salat Duha dianjurkan dilakukan sendiri ketika di rumah.

3. Niat salat Dhuha. 

أصلى سنة الضحى ركعتين لله تعالى

Ushalli sunnatad dhuha rak'ataini lillahi ta'ala.

Artinya: "Aku niat shalat Dhuha dua rakaat karena Allah."

4. Takbiratulihram

5. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.

6. Membaca Q.S. asy-Syams/91 atau al-Kafirun/109 setelah al-Fatihah pada rakaat pertama.

7. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.

8. Membaca Q.S. al-Fatihah/1.

9. Membaca Q.S. ad-Duha/93 atau al-Ikhlas/112 setelah al-Fatihah pada rakaat kedua.

10. Melakukan rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud dan sujud kedua seperti salat fardu.

11. Duduk dan membaca tasyahud akhir.

12. Salam.

13. Salat Duha dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak delapan rakaat. Ada juga ulama yang berpendapat paling banyak dua belas rakaat.

14. Membaca doa sesudah salat Duha

للّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ

اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Allahumma innad-duhaa'a duhaa'uka wal bahaa'a bahaa'uka wal jamaala jamaaluka wal quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal 'ismata 'ismatuka.

Allaahumma in kaana rizqii fis-samaa'i fa anzilhu, wa in kaana fil ardi fa akhrijhu, wa in kaana mu'assiran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fa tahhirhu wa in kaana ba'iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa'ika wa bahaa'ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita 'ibaadakash-shalihiin.

Artinya: "Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuhaMu, kecantikan itu adalah kecantikanMu, keindahan itu keindahanMu, kekuatan itu kekuatanMu, kekuasaan itu kekuasaanMu, dan perlindungan itu, perlindunganMu."

"Ya Allah, jika rizkiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaanMu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambaMu yang shaleh."


Jangan Lupa Suport Kami, Klik Link dibawah ini 👇

https://msha.ke/cahayaaurora


                                                 PENGERTIAN SHOLAT TAHAJUD

Umat Islam juga dianjurkan untuk melakukan salat sunah, salah satunya salat tahajud. Sudahkah kalian tahu tentang tata cara salat tahajud?

Pada dasarnya, tata cara salat tahajud sama dengan salat fardu. Hal yang membedakan hanyalah adanya salam setiap selesai 2 rakaat pada salat tahajud. Kenali lebih lanjut tata cara salat tahajud yang benar dalam Islam lewat ulasan di bawah ini, yuk!

Salat tahajud atau salat malam (qiyamul lail) merupakan salat sunah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Siapa saja yang rutin mengerjakan salat tahajud, maka Allah SWT akan permudah segala urusan di dunia dan akhirat. Hidupnya pun akan dijauhkan dari kesengsaraan, kesukaran, dan kesulitan. Muslim yang tidak pernah meninggalkan salat tahajud juga hidupnya akan dimuliakan oleh Allah SWT. Salat tahajud dilaksanakan pada waktu sepertiga malam terakhir, yaitu pada pukul 01.00, hingga memasuki waktu subuh.

Dalam Al-Qur'an Allah Berfirman : 


Salat Tahajud termasuk salat sunah muakkad. Ingatkah kalian salat sunah muakkad? Salat Tahajud termasuk salat yang tidak pernah ditinggalkan Nabi saw. Nabi saw. memiliki kebiasaan tidur di awal malam setelah salat Isya. Beliau bangun di pertengahan malam untuk melakukan salat Tahajud.

Nabi saw. ditanya seseorang, “Salat manakah yang paling utama setelah salat yang diwajibkan (salat lima waktu).” Rasulullah saw. menjawab, “Salat Tahajud.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

bagaimana tata cara salat Tahajud? Berikut tata cara salat Tahajud

1. Berwudu dan melakukan persiapan salat dengan memperhatikan kesucian

badan, pakaian, dan tempat.

2. Niat salat Tahajud.

اُصَلِّى سُنَّةً التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى

“Ushallii sunnatan tahajjudi rak’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’alla.”

Saya niat salat Tahajud dua rakaat karena Allah taala.

3. Takbiratulihram.

1. Rakaat Pertama 

   - Membaca niat.
   - Mengucapkan takbir.
   - Membaca doa Iftitah.
   - Membaca surah Al-Fatihah.
   - Membaca salah satu surah Q.S. al-Kafirun/109
   - Rukuk dan membaca doa rukuk.
   - I’tidal dan membaca doa i’tidal.
   - Sujud pertama dan membaca doa sujud.
   - Duduk di antara 2 sujud dan membaca doanya.
   - Sujud kedua dan membaca doa sujud.
   - Berdiri kembali untuk melanjutkan ke rakaat kedua.

2. Rakaat Kedua

   - Membaca surah Al-Fatihah.
   - Membaca salah satu surah Q.S. al-Ikhlas/112
   - Rukuk dan membaca doa rukuk.
   - I’tidal dan membaca doa i’tidal.
   - Sujud pertama dan membaca doa sujud.
   - Duduk di antara 2 sujud dan membaca doanya.
   - Sujud kedua dan membaca doa sujud
   - Tahiyat akhir dan membaca doa tahiyat akhir.
   - Gerakan salam.

4. Salat Tahajud dilakukan paling sedikit dua rakaat dan paling banyak tidakterbatas. Salat Tahajud diakhiri dengan salat Witir (salat dengan bilanganrakaat ganjil). Nabi saw. mengerjakan salat Tahajud tidak lebih dari 11 atau 13.  rakaat dengan salat Witir.

13. Membaca doa sesudah salat Tahajud

اَللهم رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ واْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ. وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاءُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ. اَللهم لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لآ اِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

"Allâhumma rabbanâ lakal hamdu. Anta qayyimus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta mâlikus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu anta nûrus samâwâti wal ardhi wa man fî hinna. Wa lakal hamdu antal haqq. Wa wa‘dukal haqq. Wa liqâ’uka haqq. Wa qauluka haqq. Wal jannatu haqq. Wan nâru haqq. Wan nabiyyûna haqq. Wa Muhammadun shallallâhu alaihi wasallama haqq. Was sâ‘atu haqq. Allâhumma laka aslamtu. Wa bika âmantu. Wa ‘alaika tawakkaltu. Wa ilaika anabtu. Wa bika khâshamtu. Wa ilaika hâkamtu. Fagfirlî mâ qaddamtu, wa mâ akhkhartu, wa mâ asrartu, wa mâ a‘lantu, wa mâ anta a‘lamu bihi minnî Antal muqaddimu wa antal mu’akhkhiru. Lâ ilâha illâ anta. Wa lâ haula, wa lâ quwwata illâ billâh."

Artinya: "Ya Allah, Tuhan kami, segala puji bagi-Mu, Engkau penegak langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau penguasa langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau cahaya langit, bumi, dan makhluk di dalamnya. Segala puji bagi-Mu, Engkau Maha Benar. Janji-Mu benar. Pertemuan dengan-Mu kelak itu benar. Firman-Mu benar adanya. Surga itu nyata. Neraka pun demikian. Para nabi itu benar. Demikian pula Nabi Muhammad itu benar. Hari Kiamat itu benar. Ya Tuhanku, hanya kepada-Mu aku berserah. Hanya kepada-Mu juga aku beriman. Kepada-Mu aku pasrah. Hanya kepada-Mu aku kembali. Karena-Mu aku rela bertikai. Hanya pada-Mu dasar putusanku. Karenanya ampuni dosaku yang telah lalu dan yang terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan yang kunyatakan, dan dosa lain yang lebih Kau ketahui ketimbang aku. Engkau Yang Maha Terdahulu dan Engkau Yang Maha Terkemudian. Tiada Tuhan selain Engkau. Tiada daya upaya dan kekuatan selain pertolongan Allah."

KEUTAMAAN SHOLAT TAHAJUD

Keutamaan salat tahajud, antara lain:

1. Pahala yang Setara dengan Sedekah Sirr

Sedekah sirr merupakan sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau rahasia. Pahala sedekah sirr memiliki selisih perbandingan dengan sedekah terang-terangan sekitar 70 kali lipat. Salah satu keutamaan dari salat Tahajud adalah memiliki pahala yang setara dengan sedekah sirr.

Hal tersebut dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

فَضْلُ صَلَاةِ اللَّيْلِ عَلَى صَلَاةِ النَّهَارِ كَفَضْلِ صَدَقَةِ السِّرِّ عَلَى صَدَقَةِ الْعَلَانِيَةِ

Artinya: Keutamaan salat malam dibanding salat siang seperti keutamaan sedekah sirr dibandingkan dengan sedekah terang-terangan. (Hilyatul Auliya’, juz 4, hlm. 167).

2. Ibadah yang Menjadi Ciri Khas Orang Saleh

Menjalankan salat malam dapat menjadi penanda bahwa seseorang tersebut orang yang saleh. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis berikut:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ

Artinya: "Hendaknya kalian melakukan salat malam, karena salat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian,

Dan sesungguhnya salat malam mendekatkan kepada Allah, serta menghalangi dari dosa, menghapus kesalahan, dan menolak penyakit dari badan," (Sunan At-Tirmidzi: 3549)

3. Dapat Mengabulkan Doa

Semua doa kebaikan yang dipanjatkan saat salat malam pasti akan dikabulkan oleh Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ، يَسْأَلُ اللهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Artinya: "Sesungguhnya di dalam malam terdapat waktu yang jika ada seorang muslim meminta kepada Allah dengan kebaikan baik urusan dunia maupun akhirat, pasti Allah SWT akan memberikannya. Dan waktu tersebut adalah sepanjang malam," (HR Muslim).

Semoga Bermanfaat 

Jangan Lupa Suport Kami, Klik Link dibawah ini 👇

https://msha.ke/cahayaaurora


0Komentar

Special Ads