BAB IX - IKRAR 'AQABA
Kabilah-kabilah Menolak Muhammad Secara Kasar
ORANG-ORANG Quraisy
tidak dapat memahami arti isra', juga mereka yang sudah Islam banyak yang tidak
memahami artinya seperti sudah disebutkan tadi. Itu sebabnya, ada kelompok yang
lalu meninggalkan Muhammad yang tadinya sudah sekian lama menjadi pengikutnya.
Permusuhan Quraisy terhadap Muhammad dan terhadap kaum Muslimin makin keras
juga, sehingga mereka sudah merasa sungguh kesal karenanya. Rasanya tak ada lagi
harapan bagi Muhammad akan mendapat dukungan kabilah-kabilah sesudah ternyata
Thaqif dari Ta'if menolaknya dengan cara yang tidak baik. Demikian juga kemudian
kabilah-kabilah Kinda, Kalb, Banu 'Amir dan Banu Hanifa semua menolaknya, ketika
ia datang mengenalkan diri kepada mereka pada musim ziarah.
Sesudah itu
Muhammad merasa, bahwa tiada seorangpun dari Quraisy itu nampaknya yang dapat
diharapkan diajak kepada kebenaran. Kabilah-kabilah lain di luar Quraisy yang
berada di sekitar Mekah dan yang datang berziarah ke tempat itu dari segenap
penjuru daerah Arab, melihat keadaannya yang dikucilkan itu dan melihat sikap
permusuhan Quraisy kepadanya demikian rupa, membuat setiap orang yang
mendukungnya jadi memusuhi mereka. Sekarang sikap Quraisy tambah keras pula
menentangnya.
Meskipun Muhammad sudah merasa berbesar hati karena adanya
Hamzah dan 'Umar, dan meskipun ia sudah yakin, bahwa Quraisy tidak akan terlalu
membahayakan melebihi yang sudah-sudah mengingat adanya pertahanan pihak
keluarganya dari Banu Hasyim dan Banu Abd'l-Muttalib, tapi ia melihat -sampai
pada waktu itu- bahwa risalah Tuhan itu akan terhenti hanya pada suatu lingkaran
pengikutnya saja. Mereka yang terdiri dari orang-orang yang masih lemah dan
sedikit sekali jumlahnya, hampir-hampir saja punah atau tergoda meninggalkan
agamanya kalau tidak segera datang kemenangan dan pertolongan Tuhan. Hal ini
berjalan cukup lama. Muhammad makin dikucilkan di tengah-tengah keluarganya,
kedengkian Quraisy juga bertambah besar.
Adakah pengasingan yang
demikian ini telah melemahkan jiwanya dan dapat mematahkan semangatnya?
Sekali-kali tidak! Bahkan kepercayaannya akan kebenaran yang datang dari Tuhan
itu lebih luhur daripada sekedar pertimbangan-pertimbangan yang akan dapat
melemahkan jiwa biasa. Bagi orang yang berjiwa luar biasa hal ini justru akan
lebih memperkuat kepercayaannya.
Dalam keadaan terasing itu - dengan
sahabat-sahabat di sekelilingnya - Muhammad yakin sekali Tuhan akan memberikan
pertolongan kepadanya dan agamanyapun akan mengatasi semua agama. Badai
kedengkian tidak sampai menggoyangkan hatinya. Bahkan tetap ia tinggal di Mekah
selama beberapa tahun. Tidak peduli ia harta Khadijah dan hartanya sendiri akan
habis. Keadaannya yang sangat miskin tidak sampai melemahkan hatinya. Jiwanya
tak pernah gandrung kepada apapun selain dari pertolongan Tuhan yang sudah pasti
akan diberikan kepadanya.
Apabila musim ziarah sudah tiba, orang-orang
dari segenap jazirah Arab sudah berkumpul lagi di Mekah, iapun mulai menemui
kabilah-kabilah itu. Diajaknya mereka memahami kebenaran agama yang dibawanya
itu. Tidak peduli ia apakah kabilah-kabilah tidak mau menerima ajakannya, atau
akan mengusirnya secara kasar. Beberapa orang pandir dari Quraisy berusaha
menghasut ketika diketahui ia terus menyampaikan amanat Tuhan itu kepada orang
ramai. Mereka memperlakukannya dengan segala kejahatan. Tetapi semua itu tidak
mengubah ketenangan jiwanya dan ia yakin sekali akan hari esok. Allah Maha Agung
telah mengutusnya demi kebenaran. Sudah tentu Dialah Pembela dan Pendukung
kebenaran itu. Tuhan juga Yang telah mewahyukan kepadanya, supaya dalam berdebat
hendaknya dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya.
"Sehingga
permusuhan antara engkau dengan dia itu sudah seperti persahabatan yang erat
sekali. (Qur'an, 41: 34) Dan supaya bicara dengan mereka dengan lemah-lembut,
kalau-kalau mereka mau sadar dan merasa gentar. Jadi, tabahkanlah hati
menghadapi siksaan mereka. Tuhan bersama mereka yang tabah
hati.
Tanda Kemenangan Dari Arah Yathrib
Tidak selang berapa
tahun kemudian Muhammad menunggu tiba-tiba tampak tanda permulaan kemenangan itu
datang dari arah Yathrib. Bagi Muhammad Yathrib mempunyai arti hubungan bukan
hubungan dagang, tetapi suatu hubungan yang dekat sekali. Di tempat itu ada
sebuah kuburan, dan sebelum wafat, sekali setahun ibunya berziarah ke tempat
itu. Sedang famili-familinya, dari pihak Banu Najjar, ialah keluarga kakeknya
Abd'l-Muttalib dari pihak ibu. Kuburan itu ialah makam ayahnya, Abdullah b.
Abd'l-Muttalib. Ke makam inilah Aminah sebagai isteri yang setia berziarah. Dulu
Abd'l-Muttalib juga sebagai ayah yang kehilangan anak yang sedang muda belia dan
tegap, pernah berziarah. Ketika berusia enam tahun, Muhammad juga pernah ke
Yathrib menemani ibunya. Jadi bersama ibunya ia juga ziarah ke makam ayahnya
itu. Kemudian mereka berdua kembali pulang. Aminah jatuh sakit di tengah
perjalanan, sampai wafat. Lalu dikuburkan di Abwa' - pertengahan jalan antara
Yathrib dengan Mekah.
Jadi tidak heranlah apabila tanda-tanda kemenangan
bagi Muhammad itu dimulai dari jurusan sebuah kota yang mempunyai hubungan
sedemikian rupa. Ke arah ini jugalah dulu ia menghadap, tatkala dalam sembahyang
itu al-Masjid'l-Aqsha di Bait'l-Maqdis dijadikan kiblatnya, tempat sesepuhnya
Musa dan Isa. Tidak heran apabila nasib baik itu akan jatuh di Yathrib. Di
tempat ini Muhammad akan beroleh kemenangan, di tempat ini Islam akan beroleh
kemenangan, di tempat ini pula Islam akan memperoleh sukses dan
berkembang.
Hubungan Yahudi dengan Aus dan Khazraj
Nasib baik
telah jatuh di Yathrib, suatu hal yang tidak terjadi pada kota yang lain. Waktu
itu dua kabilah Aus dan Khazraj adalah penyembah berhala di Yathrib. Mereka
saling bertetangga dengan orang-orang Yahudi. Sering pula timbul kebencian
antara mereka itu dan dari kebencian ini sampai timbul pula
peperangan.
Sejarah memperlihatkan bahwa orang-orang Masehi di Syam,
yang berada di bawah pengaruh Rumawi Timur (Bizantium) sangat membenci
orang-orang Yahudi, sebab mereka percaya bahwa mereka inilah yang telah menyiksa
dan menyalib Isa al-Masih. Mereka menyerbu Yathrib guna memerangi orang-orang
Yahudi. Akan tetapi karena tidak berhasil mereka lalu membujuk dan meminta
bantuan Aus dan Khazraj. Tidak sedikit jumlah orang-orang Yahudi itu kemudian
yang mereka bunuh. Dengan demikian kedudukan orang-orang Yahudi sebagai yang
dipertuan dijatuhkan, dan orang-orang Arab kabilah Aus dan Khazraj yang tadinya
terbatas hanya sebagai kuli telah dinaikkan. Sesudah itu orang-orang Arab itu
berusaha lagi akan menghantam orang-orang Yahudi supaya kekuasaan mereka atas
kota yang makmur dan subur dengan pertanian dan air itu lebih besar lagi. Siasat
mereka ini berhasil baik sekali.
Tetapi pihak Yahudi sendiri kemudian
menyadari akan bencana yang menimpa diri mereka itu. Permusuhan dan kebencian
pihak Yahudi Yathrib terhadap Aus dan Khazraj makin mendalam, Aus dan Khazrajpun
demikian juga terhadap Yahudi.
Sekarang pengikut-pengikut Musa ini
melihat, bahwa pertempuran yang dilawan dengan pertempuran berarti akan
menghabiskan mereka sama sekali, apalagi kalau Aus dan Khazraj sampai bersahabat
baik1 dengan orang-orang Arab, yang seagama dengan Ahli Kitab. Maka dalam siasat
mereka, mereka menempuh suatu cara bukan mencari kemenangan dalam pertempuran,
melainkan dengan menggunakan siasat memecah-belah. Mereka melakukan intrik di
kalangan Aus dengan Khazraj, menyebarkan provokasi permusuhan dan kebencian di
kalangan mereka, supaya masing-masing pihak selalu bersiap-siap akan saling
bertempur.
Dengan demikian selamatlah propaganda mereka itu. Mereka
sekarang dapat memperbesar perdagangan dan kekayaan mereka. Kekuasaan mereka
yang sudah hilang dapat mereka rebut kembali, termasuk rumah-rumah dan harta
tidak bergerak lainnya.
Di samping konflik karena berebut kedaulatan dan
kekuasaan dalam hidup bertetangga Yahudi-Arab Yathrib itu, masih ada pengaruh
lain yang lebih dalam pada pihak Aus dan Khazraj melebihi penduduk jazirah Arab
yang manapun juga - yaitu dalam arti pengaruh rohani.
Beberapa Orang
Yathrib Masuk Islam
Orang-orang Yahudi sebagai Ahli Kitab dan penganjur
monotheisma sangat mencela tetangga-tetangga mereka yang terdiri dari kaum pagan
dengan penyembah berhala sebagai pendekatan kepada Tuhan.
Mereka
diperingatkan bahwa kelak akan ada seorang nabi yang akan menghabiskan mereka
dan mendukung Yahudi. Tetapi propaganda ini tidak sampai membuat orang-orang
Arab itu mau menganut agama Yahudi. Soalnya karena dua sebab: pertama karena
selalu ada perang antara kaum Nasrani dan kaum Yahudi, yang lalu membuat Yahudi
Yathrib hanya hidup cari selamat, yang berarti akan menjamin lancarnya
perdagangan mereka. Kedua, orang-orang Yahudi beranggapan, bahwa mereka adalah
bangsa pilihan Tuhan, dan mereka tidak mau ada bangsa lain memegang kedudukan
ini. Di samping itu mereka memang tidak pernah mengajak orang lain menganut
agamanya dan merekapun tidak pula keluar dari lingkungan Keluarga Israil. Atas
dasar ke dua sebab tersebut, hubungan tetangga dan hubungan dagang antara Yahudi
dengan Arab -Aus dan Khazraj - membuat lebih banyak mengetahui cerita-cerita
kerohanian dan masalah-masalah agama lainnya di banding dengan golongan Arab
yang lain. Ini menunjukkan bahwa tak ada suatu golongan dari kalangan Arab yang
dapat menerima ajakan Muhammad dalam arti spiritual seperti yang dilakukan oleh
penduduk Yathrib itu.
Suwaid bin'sh-Shamit adalah seorang bangsawan
terkemuka di Yathrib. Karena ketabahannya, pengetahuannya, kebangsawanan dan
keturunannya, masyarakatnya sendiri menamakannya al-Ramil (yang sempurna). Pada
waktu membicarakan ini Suwaid sedang berada di Mekah berziarah. Muhammad lalu
menemuinya dan diajaknya ia mengenal Tuhan dan menganut
Islam.
"Barangkali yang ada padamu itu sama dengan yang ada padaku,"
kata Suwaid.
"Apa yang ada padamu?" tanya Muhammad.
"Kata-kata
mutiara oleh Luqman."
Lalu Muhammad minta supaya hal itu
dikemukakan.
"Memang itu kata-kata yang baik," kata Muhammad setelah oleh
Suwaid dikemukakan. "Tapi yang ada padaku lebih utama tentunya, yaitu Qur'an
sebagai bimbingan dan cahaya."
Lalu dibacakannya ayat-ayat Qur'an itu
kepadanya disertai ajakan agar ia sudi menerima Islam. Gembira sekali Suwaid
mendengar ini.
"Memang baik sekali ini," katanya. Lalu ia pergi hendak
memikirkan hal tersebut. Ada sementara orang yang berkata ketika ia dibunuh oleh
Khazraj, bahwa ia mati sebagai Muslim.
Peristiwa Suwaid b. Shamit ini
bukan contoh satu-satunya yang menunjukkan adanya pengaruh Yahudi dan Arab di
Yathrib yang bertetangga itu, dari segi rohani.
Keadaan Aus dan Khazraj
yang begitu bermusuhan sebagai akibat provokasi pihak Yahudi seperti yang sudah
kita ketahui, satu sama lain mencari sekutu di kalangan kabilah-kabilah Arab
untuk memerangi lawannya. Dalam hal ini kedatangan Abu'l Haisar Ans b. Rafi' ke
Mekah disertai pemuda-pemuda dari Banu Abd'l-Asyhal - termasuk Iyas b. Mu'adh -
adalah dalam rangka mencari persekutuan dengan pihak Quraisy dan golongannya
sendiri dari pihak Khazraj. Muhammad mengetahui hal ini. Ditemuinya mereka itu,
dan diperkenalkannya Islam kepada mereka. Lalu dibacanya ayat-ayat Qur'an kepada
mereka.
Pada waktu itu, Iyas b.Mu'adh sebagai pemuda remaja mengatakan:
"Kawan-kawan, ini adalah lebih baik daripada apa yang ada pada kita
semua."
Perang Bu'ath
Mereka kemudian kembali pulang ke
Yathrib. Tak ada yang masuk Islam di antara mereka itu, selain Iyas. Mereka
semua sedang sibuk mencari sekutu sebagai suatu persiapan karena adanya insiden
Bu'ath yang telah melibatkan Aus dan Khazraj ke dalam api perang saudara itu,
tidak lama sesudah Abu'l Haisar dan rombongannya kembali dari Mekah. Akan tetapi
kata-kata Muhammad 'alaihissalam telah meninggalkan bekas yang dalam ke dalam
jiwa mereka setelah terjadinya insiden itu, yang lalu membuat Aus dan Khazraj
menantikan Muhammad sebagai Nabi, sebagai Rasul, sebagai wakil dan pemuka
mereka.
Memang, terjadinya insiden Bu'ath itu tidak lama sesudah
Abu'l-Haisar kembali ke Yathrib. Pada waktu itulah pertempuran sengit antara Aus
dan Khazraj terjadi, yang membawa akibat timbulnya permusuhan yang berakar dalam
sekali. Setiap golongan lalu bertanya-tanya kalau-kalau mereka itu yang menang:
akan tetapkah mereka dengan kawan-kawan mereka itu, ataukah akan dikikis habis.
Abu Usaid Hudzair sebagai pemuka Aus, sangat dendam sekali kepada
Khazraj.
Tatkala pertempuran sudah dimulai, pihak Aus mengalami suatu
kekacauan. Mereka lari tunggang-langgang ke arah Najd, yang oleh pihak Khazraj
lalu diejek. Hudzair yang mendengarkan ejekan itu menetakkan ujung lembingnya ke
pahanya; lalu turun dengan mengatakan:
"Sungguh luar biasa! Tidak akan
tinggal diam sebelum aku mati terbunuh. Wahai masyarakat Aus, kalau kamu mau
menyerahkan aku, lakukanlah!"
Pihak Aus sekarang mau bertempur lagi.
Pengalaman pahit yang telah menimpa mereka menyebabkan mereka kini berjuang
mati-matian. Khazraj dapat mereka hancurkan. Rumah-rumah dan kebun kurma Khazraj
oleh Aus dibakar. Kemudian Sa'd b. Mu'adh al-Asyhadi bertindak melindungi
Khazraj. Sementara itu Hudzair bermaksud akan mendatangi rumah demi rumah,
membunuhi satu-satu mereka sampai tak ada yang hidup lagi, kalau tidak segera
Abu Qais ibn'l-Aslat kemudian datang mencegahnya guna menjaga solidaritas
kepercayaan mereka. "Bertetangga dengan mereka lebih baik daripada bertetangga
dengan rubah."
Sejak itu orang-orang Yahudi dapat mengembalikan
kedudukannya di Yathrib. Baik yang menang maupun yang kalah dari kalangan Aus
dan Khazraj sama-sama berpendapat tentang akibat buruk yang telah mereka lakukan
itu. Hal ini yang sekarang terpikir oleh mereka, dan mereka sudah
mempertimbangkan pula akan mengangkat seorang raja atas mereka itu. Untuk itu
mereka lalu memilih Abdullah b. Muhammad dari pihak Khazraj yang sudah kalah,
mengingat kedudukan dan pandangannya yang baik. Akan tetapi karena perkembangan
situasi yang begitu pesat, keinginan mereka itu tidak sampai terlaksana. Soalnya
ialah karena ada beberapa orang dari Khazraj pergi ke Mekah pada musim
ziarah.
Di tempat ini Muhammad menemui mereka dan menanyakan keadaan
mereka, yang kemudian diketahuinya, bahwa mereka adalah kawan-kawan orang-orang
Yahudi. Ketika itu orang-orang Yahudi di Yathrib mengatakan apabila mereka
saling berselisih.
"Sekarang akan ada seorang nabi utusan Tuhan yang
sudah dekat waktunya. Kami akan jadi pengikutnya dan kami dengan dia akan
memerangi kamu seperti dalam perang 'Ad dan Iram."
Setelah Nabi bicara
dengan mereka dan diajaknya mereka bertauhid kepada Allah, satu sama lain mereka
saling berpandang-pandangan.
"Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan
orang-orang Yahudi kepada kita," kata mereka. "Jangan sampai mereka mendahului
kita."
Seruan Muhammad mereka sambut dengan baik dan menyatakan diri
mereka masuk Islam. Lalu kata mereka:
"Kami telah meninggalkan golongan
kami - yakni Aus dan Khazraj - dan tidak ada lagi golongan yang saling
bermusuhan dan saling mengancam. Mudah-mudahan Tuhan mempersatukan mereka dengan
tuan. Bila mereka itu sudah dapat dipertemukan dengan tuan, maka tak adalah
orang yang lebih mulia dari tuan."
Ikrar2 'Aqaba yang
Pertama
Orang-orang itu lalu kembali ke Medinah. Dua orang diantara
mereka itu dari Banu'n-Najjar, keluarga Abd'l-Muttalib dari pihak ibu - kakek
Muhammad yang telah mengasuhnya sejak kecil. Kepada masyarakatnya itu mereka
menyatakan sudah menganut Islam. Ternyata merekapun menyambut pula dengan senang
hati agama ini, yang berarti akan membuat mereka menjadi golongan monotheis
seperti orang-orang Yahudi. Bahkan membuat lebih baik dari mereka. Dengan
demikian tiada suatu keluargapun, baik Aus atau Khazraj, yang tidak menyebut
nama Muhammad 'alaihissalam.
Tiba giliran tahun berikutnya, bulan-bulan
sucipun datang lagi bersama datangnya musim ziarah ke Mekah, dan ke tempat itu
datang pula duabelas orang penduduk Yathrib. Mereka ini bertemu dengan Nabi di
'Aqaba. Di tempat inilah mereka menyatakan ikrar atau berjanji kepada Nabi (yang
kemudian dikenal dengan nama) Ikrar 'Aqaba pertama. Mereka berikrar kepadanya
untuk tidak menyekutukan Tuhan, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh
anak-anak, tidak mengumpat dan memfitnah, baik di depannya atau di belakang.
Jangan menolak berbuat kebaikan. Barangsiapa mematuhi semua itu ia mendapat
pahala surga, dan kalau ada yang mengecoh, maka soalnya kembali kepada Tuhan.
Tuhan berkuasa menyiksa, juga berkuasa mengampuni segala
dosa.
Mush'ab b. 'Umair
Dalam hal ini Muhammad menugaskan
kepada Mush'ab bin 'Umair supaya membacakan Qur'an kepada mereka, mengajarkan
Islam serta seluk-beluk hukum agama.
Setelah adanya ikrar ini Islam
makin tersebar di Yathrib. Mush'ab bertugas memberikan pelajaran agama di
kalangan Muslimin Aus dan Khazraj. Gembira sekali ia melihat kaum Anshar itu
makin teguh kepercayaannya kepada Allah dan kepada kebenaran. Menjelang
bulan-bulan suci akan tiba, ia datang lagi ke Mekah dan kepada Muhammad
diceritakannya keadaan Muslimin di Yathrib itu; tentang ketahanan dan kekuatan
mereka, dan bahwa pada musim haji tahun ini mereka akan datang lagi ke Mekah
dalam jumlah yang lebih besar dengan iman kepada Tuhan yang sudah lebih
kuat.
Berita-berita yang disampaikan oleh Mush'ab ini membuat Muhammad
berpikir lebih lama lagi. Pengikut-pengikutnya di Yathrib kini makin sehari
makin berkuasa dan bertambah kuat juga. Dari orang-orang Yahudi dan orang-orang
musyrik mereka tidak mendapat gangguan seperti yang dialami oleh kawan-kawannya
di Mekah karena gangguan Quraisy. Di samping itu Yathrib lebih makmur daripada
Mekah - ada pertanian, ada kebun kurma, ada anggur. Bukankah lebih baik sekali
apabila Muslimin Mekah itu hijrah saja ke tempat saudara-saudara mereka di sana,
yang akan terasa lebih aman? Mereka akan bebas dari Quraisy yang selalu
memfitnah agama mereka.
Orang-orang Islam dari Yathrib
Selama
Muhammad berpikir-pikir itu teringat olehnya akan orang-orang dari Yathrib,
mereka yang mula-mula masuk Islam itu, dan yang menceritakan adanya permusuhan
antara golongan Aus dan Khazraj. Apabila dengan perantaraannya mereka itu sudah
dapat dipersatukan Tuhan, maka tak ada orang yang lebih mulia dari Muhammad.
Sekarang mereka sudah dipertemukan Allah bersama dia, bukankah lebih baik
apabila dia juga hijrah? Ia tidak ingin membalas kejahatan Quraisy itu. Iapun
sadar bahwa ia lebih lemah dari mereka. Kalaupun Keluarga Hasyim dan Keluarga
Muttalib melindunginya dari penganiayaan, mereka tidak akan membelanya dalam
melakukan penganiayaan. Dan mereka yang sudah menjadi pengikutnya juga takkan
dapat melindungi diri dari penganiayaan Quraisy dan segala macam
-kejahatannya.
Ikrar 'Aqaba yang Kedua
Tahun ini - 622 M -
jemaah haji dari Yathrib praktis jumlahnya banyak sekali, terdiri dari
tujuhpuluh lima orang, tujuhpuluh tiga pria dan dua wanita. Mengetahui
kedatangan mereka ini, terpikir oleh Muhammad akan mengadakan suatu ikrar lagi,
tidak terbatas hanya pada seruan kepada Islam seperti selama ini, yang selama
tigabelas tahun ini terus-menerus dilakukannya, dengan lemah-lembut, dengan
segala kesabaran menang gung pelbagai macam pengorbanan dan kesakitan -
melainkan kini lebih jauh lagi dari itu. Ikrar itu hendaknya menjadi suatu pakta
persekutuan, yang dengan demikian kaum Muslimin dapat mempertahankan diri:
pukulan dibalas dengan pukulan, serangan dengan serangan. Muhammad lalu
mengadakan pertemuan rahasia dengan pemimpin-pemimpin mereka.
Setelah
ada kesediaan mereka, dijanjikannya pertemuan itu akan diadakan di 'Aqaba pada
tengah malam pada hari-hari Tasyriq3. Peristiwa ini oleh Muslimin Yathrib tetap
dirahasiakan dari kaum musyrik yang datang bersama-sama mereka. Menunggu sampai
lewat sepertiga malam dari janji mereka dengan Nabi, mereka keluar meninggalkan
kemah, pergi mengendap-endap seperti burung ayam-ayam, sembunyi-sembunyi jangan
sampai rahasia itu terbongkar.
Sesampai mereka di gunung 'Aqaba, mereka
semua memanjati lereng-lereng gunung tersebut, demikian juga kedua wanita itu.
Mereka tinggal di tempat ini menunggu kedatangan Rasul.
Kemudian
Muhammad pun datang, bersama pamannya 'Abbas b. Abd'l-Muttalib - yang pada waktu
itu masih menganut kepercayaan golongannya sendiri. Akan tetapi sejak sebelum
itu ia sudah mengetahui dari kemenakannya ini akan adanya suatu pakta
persekutuan; dan adakalanya hal ini dapat mengakibatkan perang. Disebutkan juga,
bahwa dia sudah mengadakan perjanjian dengan Keluarga Muttalib dan Keluarga
Hasyim untuk melindungi Muhammad. Maka dimintanya ketegasan kemanakannya itu dan
ketegasan golongannya sendiri, supaya jangan kelak timbul bencana yang akan
menimpa Keluarga Hasyim dan Keluarga Muttalib, dan dengan demikian berarti
orang-orang Yathrib itu akan kehilangan pembela. Atas dasar itulah, maka 'Abbas
yang pertama kali bicara.
"Saudara-saudara dari Khazraj!" kata 'Abbas.
"Posisi Muhammad di tengah-tengah kami sudah sama-sama tuan-tuan ketahui. Kami
dan mereka yang sepaham dengan kami telah melindunginya dari gangguan masyarakat
kami sendiri. Dia adalah orang yang terhormat di kalangan masyarakatnya dan
mempunyai kekuatan di negerinya sendiri. Tetapi dia ingin bergabung dengan
tuan-tuan juga. Jadi kalau memang tuan-tuan merasa dapat menepati janji seperti
yang tuan-tuan berikan kepadanya itu dan dapat melindunginya dari mereka yang
menentangnya, maka silakanlah tuan-tuan laksanakan. Akan tetapi, kalau tuan-tuan
akan menyerahkan dia dan membiarkannya terlantar sesudah berada di tempat
tuan-tuan, maka dari sekarang lebih baik tinggalkan sajalah."
Setelah
mendengar keterangan 'Abbas pihak Yathrib menjawab: "Sudah kami dengar apa yang
tuan katakan. Sekarang silakan Rasulullah bicara. Kemukakanlah apa yang tuan
senangi dan disenangi Tuhan."
Setelah membacakan ayat-ayat Qur'an dan
memberi semangat Islam, Muhammad menjawab:
"Saya minta ikrar tuan-tuan
akan membela saya seperti membela isteri-isteri dan anak-anak tuan-tuan
sendiri."
Ketika itu Al-Bara' b. Ma'rur hadir. Dia seorang pemimpin
masyarakat dan yang tertua di antara mereka. Sejak ikrar 'Aqaba pertama ia sudah
Islam, dan menjalankan semua kewajiban agama, kecuali dalam sembahyang ia
berkiblat ke Ka'bah, sedang Muhammad dan seluruh kaum Muslimin waktu itu masih
berkiblat ke al-Masjid'l-Aqsha. Oleh karena ia berselisih pendapat dengan
masyarakatnya sendiri, begitu mereka sampai di Mekah segera mereka minta
pertimbangan Nabi. Muhammad melarang Al-Bara' berkiblat ke
Ka'bah.
Setelah tadi Muhammad minta kepada Muslimin Yathrib supaya
membelanya seperti mereka membela isteri dan anak-anak mereka sendiri, Al-Bara'
segera mengulurkan tangan menyatakan ikrarnya seraya berkata: "Rasulullah, kami
sudah berikrar. Kami adalah orang peperangan dan ahli bertempur yang sudah kami
warisi dari leluhur kami."
Tetapi sebelum Al-Bara' selesai bicara,
Abu'l-Haitham ibn't-Tayyihan datang menyela:
"Rasulullah, kami dengan
orang-orang itu - yakni orang-orang Yahudi - terikat oleh perjanjian, yang sudah
akan kami putuskan. Tetapi apa jadinya kalau kami lakukan ini lalu kelak Tuhan
memberikan kemenangan kepada tuan, tuan akan kembali kepada masyarakat tuan dan
meninggalkan kami?"
Muhammad tersenyum, dan katanya: "Tidak, saya
sehidup semati dengan tuan-tuan. Tuan-tuan adalah saya dan saya adalah
tuan-tuan. Saya akan memerangi siapa saja yang tuan-tuan perangi, dan saya akan
berdamai dengan siapa saja yang tuan-tuan ajak berdamai."
Tatkala mereka
siap akan mengadakan ikrar itu, 'Abbas b. 'Ubada datang menyela dengan
mengatakan: "Saudara-saudara dari Khazraj. Untuk apakah kalian memberikan ikrar
kepada orang ini? Kamu menyatakan ikrar dengan dia tidak melakukan perang
terhadap yang hitam dan yang merah4 melawan orang-orang itu5. Kalau tuan-tuan
merasa, bahwa jika harta benda tuan-tuan habis binasa dan pemuka-pemuka
tuan-tuan mati terbunuh, tuan-tuan akan menyerahkan dia (kepada musuh), maka
(lebih baik) dari sekarang tinggalkan saja dia. Kalaupun itu juga yang tuan-tuan
lakukan, ini adalah suatu perbuatan hina dunia akhirat. Sebaliknya, bila
tuan-tuan memang dapat menepati janji seperti yang tuan-tuan berikan kepadanya
itu, sekalipun harta-benda tuan-tuan akan habis dan bangsawan-bangsawan akan
mati terbunuh, maka silakan saja tuan-tuan terima dia. Itulah suatu perbuatan
yang baik, dunia akhirat."
Orang ramai itu menjawab:
"Akan kami
terima, sekalipun harta-benda kami habis, bangsawan-bangsawan kami terbunuh.
Tetapi, Rasulullah, kalau dapat kami tepati semua ini, apa yang akan kami
peroleh?"
"Surga," jawab Muhammad dengan tenang dan
pasti.
Mereka lalu mengulurkan tangan dan dia juga membentangkan
tangannya. Ketika itu mereka menyatakan ikrar kepadanya.
Selesai ikrar
itu, Nabi berkata kepada mereka:
"Pilihkan dua belas orang pemimpin dari
kalangan tuan-tuan yang akan menjadi penanggung-jawab
masyarakatnya."
Mereka lalu memilih sembilan orang dari Khazraj dan tiga
orang dari Aus. Kemudian kepada pemimpin-pemimpin itu Nabi
berkata:
"Tuan-tuan adalah penanggung-jawab masyarakat tuan-tuan seperti
pertanggung-jawaban pengikut-pengikut Isa bin Mariam. Terhadap masyarakat saya,
sayalah yang bertanggungjawab."
Dalam ikrar kedua ini mereka
berkata:
"Kami berikrar mendengar dan setia di waktu suka dan duka, di
waktu bahagia dan sengsara, kami hanya akan berkata yang benar di mana saja kami
berada, dan kami tidak takut kritik siapapun atas jalan Allah
ini."
Peristiwa ini selesai pada tengah malam di celah gunung 'Aqaba,
jauh dari masyarakat ramai, atas dasar kepercayaan, bahwa hanya Allah Yang
mengetahui keadaan mereka. Akan tetapi, begitu peristiwa itu selesai, tiba-tiba
mereka mendengar ada suara berteriak yang ditujukan kepada Quraisy: "Muhammad
dan orang-orang yang pindah kepercayaan itu sudah berkumpul akan memerangi
kamu!"
Suara itu datangnya dari seseorang yang keluar untuk urusannya
sendiri. Mengetahui keadaan mereka itu sedikit dengan melalui pendengarannya
yang selintas, ia lalu bermaksud hendak mengacaukan rencana itu dan mau
menanamkan kegelisahan dalam hati mereka, bahwa rencana mereka malam itu
diketahui. Akan tetapi pihak Khazraj dan Aus tetap pada janji mereka. Bahkan
'Abbas b. 'Ubada - setelah mendengar suara si mata-mata itu - berkata kepada
Muhammad:
"Demi Allah Yang telah mengutus tuan atas dasar kebenaran,
kalau sekiranya tuan sudi, penduduk Mina itu besok akan kami habiskan dengan
pedang kami."
Ketika itu Muhammad menjawab:
"Kami tidak
diperintahkan untuk itu. Kembalilah ke kemah tuan-tuan."
Merekapun
kembali ke tempat mereka bermalam, lalu tidur. Keesokan harinya pagi-pagi baru
mereka bangun.
Beritanya di Kalangan Quraisy
Akan tetapi
pagi itu juga Quraisy sudah mengetahui berita adanya ikrar itu. Mereka terkejut
sekali. Pagi itu pemuka-pemuka Quraisy mendatangi Khazraj di tempatnya
masing-masing. Mereka menyesalkan Khazraj dan mengatakan, bahwa mereka tidak
ingin berperang dengan Khazraj. Tetapi kenapa mau bersekutu dengan Muhammad
memerangi mereka. Ketika itu juga orang-orang musyrik dari kalangan Khazraj
bersumpah-sumpah bahwa hal semacam itu tidak ada sama sekali. Sedang Muslimin
malah diam saja setelah dilihatnya Quraisy lagaknya akan mempercayai keterangan
orang-orang yang seagama dengan mereka itu.
Sekarang Quraisy kembali
tanpa dapat mengiakan atau meniadakan berita tersebut. Tetapi mereka terus
menyelidiki, kalau-kalau dapat mengungkapkan keadaan yang sebenarnya. Sementara
itu orang-orang Yathrib sudah mengangkat perbekalan mereka dan kembali menuju
negeri mereka sebelum pihak Quraisy mengetahui benar apa yang mereka lakukan
itu.
Setelah kemudian Quraisy mengetahui, bahwa berita itu memang benar,
mereka berangkat mencari orang-orang Yathrib itu. Tetapi sudah tak ada lagi yang
akan dapat mereka jumpai selain Sa'd b. 'Ubada, yang lalu diambil dan dibawanya
ke Mekah. Ia disiksa. Tetapi kemudian Jubair b. Mut'im b. 'Adi dan al-Harith b.
Umayya datang menolongnya. Dulu orang ini pernah menolong mereka ketika mereka
dalam perjalanan perdagangan ke Syam lewat Yathrib.
Kalau begitu
kekuatiran Quraisy kiranya tidak berlebih-lebihan, begitu juga dalam mengejar
jejak mereka yang telah ikrar kepada Muhammad akan memerangi mereka itu. Mereka
telah mengenalnya selama tigabelas tahun terus-menerus, sejak permulaan
kenabiannya. Mereka sudah berusaha mati-matian melancarkan perang pasif itu
kepadanya, dan masing-masing sudah pula menghadapinya. Mereka mengetahui itu
adalah karena keyakinannya kepada Tuhan, karena teguhnya ia berpegang pada
ajaran yang benar. Ia sudah tak dapat dilunakkan dan tak dapat pula dibujuk. Ia
tak pernah gentar menghadapi gangguan, menghadapi siksaan, menghadapi
pembunuhan. Sesudah ia dan pengikut-pengikutnya disakiti dengan pelbagai macam
gangguan, sesudah ia dikepung di celah-celah bukit, seluruh penduduk Mekah
diteror dengan bermacam-macam ketakutan supaya jangan jadi pengikutnya,
terbayang oleh Quraisy bahwa mereka sudah hampir mengalahkannya, kegiatannya
hanya akan terbatas dalam lingkaran sempit pengikut-pengikutnya yang masih
berpegang pada agama itu saja. Dia dan sahabat-sahabatnya tidak lama lagi sudah
akan jemu dalam pengasingan, dan akan kembali tunduk menyerah di bawah kekuasaan
mereka.
Tetapi sekarang, dengan adanya perjanjian persekutuan baru ini,
pintu harapan akan menang jadi terbuka didepan Muhammad dan
pengikut-pengikutnya. Setidak-tidaknya harapan kebebasan menyebarkan agama,
serta menyerang berhala-berhala dan penyembah-penyembahnya. Siapa tahu apa yang
akan terjadi kelak terhadap masyarakat seluruh jazirah Arab itu, bila sudah
mendapat bantuan Yathrib berikut Aus dan Khazrajnya, dan sesudah mendapat
perlindungan dari serangan musuh, disertai adanya kebebasan melakukan upacara
agama serta mengajak pihak lain turut bergabung. Kalau Quraisy tidak dapat
mengikis gerakan ini di tanah tumpah darahnya sendiri maka kekuatiran mereka
pada hari kemudiannya tetap selalu membayang, dan kemenangan Muhammad terhadap
mereka masih tetap menggelisahkan mereka.
Oleh karena itu
sungguh-sungguh mereka memikirkan apa yang harus mereka lakukan guna
menggagalkan usaha Muhammad itu, serta menghancurkan gerakan barunya. Demikian
juga dia sendiri tidak kurang dari Quraisy dalam memikirkan hal ini. Pintu yang
telah dibukakan Tuhan di hadapannya itu ialah pintu kehormatan bagi agama Allah,
pintu yang akan memberi tempat pada arti kebenaran. Perjuangan yang sekarang
berkecamuk antara dia dengan pihak Quraisy, adalah suatu peristiwa yang paling
hebat terjadi sejak masa kerasulannya, yakni suatu perjuangan hidup atau mati
bagi kedua belah pihak. Sudah tentu, kemenangan itu ada pada pihak yang benar.
Keputusannya sudah bulat. Bolehlah ia minta pertolongan Tuhan. Biarlah, segala
tipu-daya yang sudah dilakukan Quraisy itu akan bersifat lebih menghina mereka
sendiri melebihi yang sudah-sudah. Ia akan terus maju, tapi dengan sikap
bijaksana, tenang dan hati-hati. Masalahnya adalah masalah kecekatan politik dan
kecerdikan seorang pemimpin yang saksama.
Muhammad Mengizinkan
Muslimin Mekah Hijrah ke Yathrib
Dimintanya sahabat-sahabatnya supaya
menyusul kaum Anshar ke Yathrib. Hanya saja dalam meninggalkan Mekah hendaknya
mereka terpencar-pencar, supaya jangan sampai menimbulkan kepanikan pihak
Quraisy terhadap mereka.
Mulailah kaum Muslimin melakukan hijrah secara
sendiri-sendiri atau kelompok-kelompok kecil. Akan tetapi hal itu rupanya sudah
diketahui oleh pihak Quraisy. Mereka segera bertindak, berusaha mengembalikan
yang masih dapat dikembalikan itu ke Mekah untuk kemudian dibujuk supaya kembali
kepada kepercayaan mereka, kalau tidak akan disiksa dan dianiaya. Sampai-sampai
tindakan itu ialah dengan cara memisahkan suami dari isteri; kalau si isteri
dari pihak Quraisy ia tidak dibolehkan pergi ikut suami. Yang tidak menurut,
isterinya yang masih dapat mereka kurung, dikurung.
Akan tetapi mereka
takkan dapat berbuat lebih dari itu. Mereka kuatir akan pecah perang saudara
antar-kabilah jika mereka mencoba membunuh salah seorang dari kabilah
itu.
Berturut-turut kaum Muslimin hijrah ke Yathrib, sedang Muhammad
tetap berada di posnya. Tak ada orang yang mengetahui, dia akan tetap tinggal di
tempatnya itu atau sudah mengambil keputusan akan hijrah juga. Dahulu juga
mereka tidak mengetahui, ketika sahabat-sahabatnya diijinkan hijrah ke Abisinia,
sedang dia sendiri tetap di Mekah menyerukan anggota-anggota keluarganya yang
lain ke dalam Islam. Bahkan Abu Bakrpun, ketika minta ijin akan turut hijrah ke
Yathrib, ia hanya berkata: "Jangan tergesa-gesa; kalau-kalau Tuhan menyertakan
seorang kawan." Dan tidak lebih dari itu.
Sungguhpun begitu pihak
Quraisy sendiri sudah seribu kali memperhitungkan hijrah Nabi ke Yahtrib itu.
Jumlah kaum Muslimin di sana sudah begitu banyak sehingga hampir-hampir mereka
itu menjadi pihak yang menentukan. Sekarang datang pula mereka yang hijrah dari
Mekah menggabungkan diri, sehingga mereka jadi bertambah kuat juga adanya. Dalam
pada itu, apabila Muhammad - orang yang sudah mereka kenal berpendirian teguh
dengan pendapatnya yang tepat dan berpandangan jauh - sampai menyusul ke
Yathrib, mereka kuatir penduduk Yathrib itu kelak akan menyerbu Mekah, atau akan
menutup jalur perjalanan perdagangan mereka ke Syam atau akan membuat mereka
mati kelaparan seperti yang pernah mereka lakukan dulu terhadap Muhammad dan
sahabat-sahabatnya tatkala mereka membuat piagam pemboikotan dan memaksa mereka
tinggal di celah-celah gunung selama tigapuluh bulan.
Komplotan
Quraisy Mau Membunuh Muhammad
Apabila Muhammad masih tinggal di Mekah dan
berusaha akan meninggalkan tempat itu, maka mereka masih merasa terancam oleh
adanya tindakan pihak Yathrib dalam membela Nabi dan Rasul. Jadi tak ada jalan
keluar bagi mereka selain dengan membunuhya. Dengan begitu mereka lepas dari
malapetaka yang terus-menerus itu. Tetapi kalau juga mereka membunuhnya, tentu
Keluarga Hasyim dan Keluarga Muttalib akan menuntut balas. Maka pecahlah perang
saudara di Mekah, dan suatu bencana yang sangat mereka takuti juga akan datang
dari pihak Yathrib.
Sekarang mereka mengadakan pertemuan di Dar'n-Nadwa
membahas semua persoalan itu serta cara-cara pencegahannya. Salah seorang dari
mereka mengusulkan:
"Masukkan dia dalam kurungan besi dan tutup pintunya
rapat-rapat kemudian awasi biar dia mengalami nasib seperti penyair-penyair
semacamnya sebelum dia; seperti Zuhair dan Nabigha."
Tetapi pendapat ini
tidak mendapat suara.
"Kita keluarkan dia dari lingkungan kita, kita
buang dari negeri kita. Sesudah itu tidak perlu kita pedulikan lagi urusannya,"
demikian terdengar suara yang lain. Tetapi mereka kuatir ia akan terus menyusul
ke Medinah dan apa yang mereka takuti justru akan menimpa
mereka.
Akhirnya mereka memutuskan, dari setiap kabilah akan diambil
seorang pemuda yang tegap, dan setiap pemuda itu akan dipersenjatai dengan
sebilah pedang yang tajam, yang secara bersama-sama sekaligus mereka akan
menghantamnya, dan darahnya dapat dipencarkan antar-kabilah. Dengan demikian
Banu 'Abd Manaf takkan dapat memerangi mereka semua. Mereka akan menebus darah
itu kemudian dengan harta. Maka terlepaslah Quraisy dan orang yang membuat
porak-poranda dan mencerai-beraikan kabilah-kabilah mereka itu.
Mereka
menyetujui pendapat ini dan merasa cukup puas. Mereka mengadakan seleksi di
kalangan pemuda-pemuda mereka. Mereka menganggap bahwa soal Muhammad akan sudah
selesai. Beberapa hari lagi ia akan terkubur habis ke dalam tanah, bersama
ajarannya, dan mereka yang sudah hijrah ke Yathrib akan kembali ke tengah-tengah
masyarakat, akan kembali kepada kepercayaan dan kepada dewa-dewa mereka. Quraisy
dan negeri Arab yang sudah dipecah-belah, kedudukannya yang sudah mulai lemah,
dengan demikian akan kembali bersatu.
Catatan kaki:
[1]
Hilf (amak ahlaf) pernyataan sumpah setia-kawan atau bersahabat baik antar
kabilah bersangkutan yang biasa berlaku dalam tradisi masyarakat Arab pada masa
itu. Halif (jamak hulafa'), yakni pihak yang mengadakan persahabatan,
kawan-kawan sepersekutuan (A).
[2] Bai'at'l-'Aqaba, secara harfiah berarti
pernyataan dan sumpah setia yang diadakan di bukit 'Aqaba (A).
[3] Hari-hari
Tasyriq ialah tiga hari berturut-turut setelah hari Raya Kurban (lebaran Haji)
(A).
[4] Yakni berperang habis-habisan melawan semua orang (A).
[5] Yakni
Quraisy (A).

0Komentar