TSriTfr5GfYoTfYlBSW8GSMiTA==

Sepasang Sandal Bernama NU dan Muhammadiyah


 

Sepasang Sandal Bernama NU dan Muhammadiyah

    Perbedaan penetapan hari raya hampir selalu menghadirkan suasana yang unik. Bukan semata karena gema takbir yang bersahutan, melainkan karena satu pertanyaan klasik yang berulang setiap tahun: “Besok lebaran atau lusa?” Pertanyaan sederhana ini sering kali memantik diskusi panjang, bahkan perdebatan yang melelahkan, seolah perbedaan tanggal adalah perbedaan iman. Padahal, seperti pernah disampaikan dengan ringan namun sarat makna oleh KH. Hasyim Muzadi, yang berbeda sebenarnya hanya hitungan harinya. Salatnya tetap sama, takbirnya tetap menggema kepada Tuhan yang sama, dan langit tempat doa-doa dipanjatkan pun tidak berubah.

    Ibadah tetap satu, arah kiblat tetap satu, dan tujuan spiritualnya pun sama. Yang membedakan hanyalah cara manusia membaca waktu, cara manusia memahami tanda-tanda alam yang dijadikan rujukan untuk menentukan awal bulan. Di titik ini, perbedaan bukanlah soal benar dan salah secara mutlak, melainkan soal metode dan pendekatan keilmuan.

    Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, penentuan awal bulan dilakukan dengan rukyat, menunggu kemunculan hilal secara langsung. Ibarat menanti tamu, pintu baru dibuka ketika sosoknya benar-benar terlihat di depan mata. Sementara Muhammadiyah menggunakan hisab, perhitungan astronomis yang memastikan bahwa secara ilmu falak, bulan baru sudah berada pada posisinya. Tamu tidak harus terlihat secara kasat mata; cukup diyakini bahwa ia sudah sampai waktunya.

    Dua pendekatan ini sering disalahpahami sebagai dua keyakinan yang berbeda. Padahal, keduanya lahir dari tradisi keilmuan Islam yang sama-sama sahih. Ini bukan dua agama, bukan dua Tuhan, melainkan dua cara membaca realitas kosmik. Perbedaan metode tidak serta-merta menjadikan umat terbelah, kecuali jika perbedaan itu dipelihara dengan ego dan kecurigaan.

    Suatu ketika, sebagaimana diceritakan dengan nada jenaka, Jusuf Kalla sempat merasa gelisah melihat umat Islam seolah hidup dengan dua kalender. Dari kegelisahan itu lahir sebuah usulan yang khas dunia bisnis: Muhammadiyah turun satu derajat, NU naik satu derajat. Sebuah jalan tengah yang terdengar masuk akal secara matematis, seperti negosiasi harga di pasar.

    Namun fikih dan ilmu falak tidak bekerja seperti transaksi dagang. Ia bukan ruang tawar-menawar angka, melainkan ranah metodologi ilmiah yang berdiri di atas dalil, kaidah, dan konsistensi keilmuan. Kebenaran metodologis tidak mengenal diskon. Maka usulan itu pun disambut dengan senyum, bukan penolakan keras, karena logika dagang memang tidak selalu bisa diterapkan dalam ilmu agama.

    Yang jauh lebih penting daripada menyatukan tanggal adalah menyatukan cara pandang umat terhadap perbedaan itu sendiri. Bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan keniscayaan. Bahkan bumi yang kita pijak tidak mengenal satu waktu yang seragam. Seseorang bisa berangkat dari Tokyo pada Jumat sore dan tiba di California pada Jumat pagi. Apakah ia harus melaksanakan salat Jumat dua kali? Atau seseorang yang terbang dari New York ke Jakarta, tiba-tiba “kehilangan” hari Sabtu dalam perjalanannya—apakah hari itu benar-benar lenyap dari takdir?

    Waktu dan tanggal ternyata tidak absolut. Ia adalah hasil kesepakatan manusia dalam membaca pergerakan bumi dan langit. Jika demikian, mengapa perbedaan satu hari dalam penetapan Idulfitri harus dibesarkan melebihi perbedaan zona waktu yang setiap hari kita terima tanpa ribut? Pada titik inilah, humor ringan berubah menjadi pelajaran besar tentang kedewasaan beragama.

    Hubungan NU dan Muhammadiyah sendiri, sebagaimana sering disampaikan KH. Hasyim Muzadi, justru semakin cair. Mereka sering berada di panggung yang sama, berdiskusi, dan saling mengisi. Bahkan dengan seloroh khasnya, beliau mengatakan bahwa dirinya lebih sering diundang oleh Muhammadiyah daripada tokoh Muhammadiyah diundang NU. Candaan ini bukan sindiran, melainkan isyarat bahwa sekat-sekat identitas tidak setebal yang sering dibayangkan.

    Cerita tentang Din Syamsuddin yang disebut “mantan NU” karena tidak betah dengan lingkungan NU yang dianggap kurang rapi juga bukan ejekan. Itu adalah cara kiai mencairkan ketegangan, menertawakan ego kelompok, dan mengingatkan bahwa perbedaan gaya hidup tidak menghapus kesamaan tujuan. Di balik tawa itu tersimpan pengakuan jujur: kita berbeda dalam cara bergerak, bukan dalam arah.

    NU tumbuh kuat di akar rumput, di langgar-langgar kecil, di desa-desa, dalam tradisi yang hidup dan membumi. Muhammadiyah berkembang pesat dalam sistem modern: universitas, rumah sakit, lembaga pendidikan, dan manajemen yang rapi. NU mungkin sulit serapi Muhammadiyah, sementara Muhammadiyah mungkin sulit seakar NU. Tetapi justru di situlah keindahannya.

    Keduanya bukan untuk dipertandingkan, melainkan untuk dipasangkan. Seperti sepasang sandal. Kanan dan kiri tidak pernah sama bentuknya. Jika dipaksakan sama, ia justru tidak akan nyaman dipakai. Namun karena perbedaannya itulah, manusia bisa melangkah jauh dengan seimbang.

    Sejarah Indonesia pun berdiri di atas jejak dua “sandal” besar ini. Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan adalah dua tokoh dengan pendekatan berbeda, tetapi dengan arah yang sama: membangun umat dan bangsa. Mereka tidak mendirikan organisasi untuk saling mengalahkan, melainkan untuk menanam fondasi rumah besar bernama Indonesia.

    Dalam perspektif itu, perbedaan cabang-cabang kecil dalam praktik ibadah—bahkan perbedaan yang sangat teknis—menjadi terasa kecil. Yang jauh lebih besar adalah kesamaan visi keumatan, kebangsaan, dan kenegaraan. NU dan Muhammadiyah sejak awal tidak sedang berlomba siapa paling benar sendirian. Mereka sedang berjalan bersama, meski dengan langkah yang tidak selalu serempak.

    Maka setiap kali kita kembali ribut soal tanggal, barangkali kita lupa bahwa kita sedang berjalan menggunakan sepasang sandal. Melepas salah satunya mungkin membuat kita tetap bisa berdiri. Namun untuk berjalan jauh, untuk menempuh perjalanan panjang sejarah umat dan bangsa, kita membutuhkan keduanya.

    Perbedaan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Justru ia adalah syarat agar langkah itu seimbang. Selama NU dan Muhammadiyah dipahami sebagai dua sisi yang saling melengkapi, bukan saling menegasikan, umat Islam Indonesia akan terus melangkah dengan kokoh—menuju masa depan yang damai, dewasa, dan penuh hikmah.

0Komentar

Special Ads