TSriTfr5GfYoTfYlBSW8GSMiTA==

Stop Seksisme pada Perempuan


Stop Seksisme pada Perempuan

Membahas tentang perempuan tidak ada henti-hentinya karena dalam diri seorang perempuan banyak sekali permasalahan yang dihadapi baik faktor dari luar maupun dari dalam. Bolehkah seorang perempuan bekerja? Bolehkah seorang perempuan keluar dari rumah? Bolehkah seorang perempuan menghasilkan karya? semua itu masih ada pada budaya dahulu yang memandang seorang perempuan lemah, yang dimana dulu keberadaan seorang perempuan sempat terkungkung dalam ruang gelap penindasan. Konsep seperti inilah yang menyudutkan seorang perempuan dianggap lemah, tidak bisa apa-apa dan tidak bisa berdiri sendiri dalam hidupnya. Istilah seperti ini dapat disebut dengan seksisme. Apa itu seksisme? Seksisme adalah prasangka bahwa salah satu jenis kelamin lebih superior atau lebih baik daripada jenis kelamin sebaliknya. Kendati konsep seksisme ini bisa berpengaruh pada laki-laki dan perempuan. Tetapi seringkali perempuan adalah korban seksisme di kehidupan masyarakat dan sudah muncul pada era nenek moyang kita dahulu hingga sampai sekarang.

Dahulu hanya seorang laki-laki yang hanya bisa bersekolah, seorang perempuan hanya terkurung di ruang dapur dan di rumah. Seorang perempuan juga dipandang sebagai kaum lemah yang menjadikan sasaran kekerasan, akses terbatas, diskriminasi, pendidikan rendah dan sebagainya. Masih banyak lagi tanggapan tentang perempuan yang dianggap lemah seperti beberapa budaya di Indonesia yang bersifat patrilinear atau memenag prinsip patriarki pun terkadang cenderung mengedepankan kepentingan laki-laki daripada perempuan. Bahkan, terdapat keluarga secara sadar ataupun tidak sadar terbentuk pola asuh orang tua yang memprioritaskan anak laki-laki dalam menggapai kesuksesan setinggi-tingginya karena dianggap bahwa anak laki-laki itulah yang kelak akan menerima tongkat estafet pengganti ayahnya dalam membawa bendera keluarga. Seringkali  banyak keluarga yang beranggapan bahwa anak laki- lakilah yang kelak akan membawa nama baik keluarga.

Dalam beberapa budaya, baik buruknya nama keluarga sering dinilai dari sosok anak laki-laki dalam keluarga tersebut. Dan perlu diakui, pada era maju saat ini, budaya dan anggapan tersebut masih saja berlaku. Dan bagaimana jika keluarga yang hanya dikaruniai anak perempuan? Apakah anak pertama perempuan tidak bisa memimpin untuk menopang kehidupannya kelak?, saya yakin banyak di luar sana yang ditakdirkan untuk menjadi anak perempuan pertama dan bisa mengatur kehidupannya dengan selektif tanpa perlu merengek kepada orang lain. Seksisme lain pada perempuan yaitu merujuk kepada perempuan yang berkarir, perempuan yang berkarir sering kali di hakimi untuk apa sekolah tinggi-tinggi dan bekerja keras yang ujung-ujungnya pun akan mengurus suami dan anak. Perempuan yang berkarir dan sudah menikah juga sering kali di hakimi sudah melantarkan anak dan suaminya, tidak bisa menjadi istri yang berbakti kepada suami serta tidak bisa menjadi ibu yang baik, bahkan perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tanggapun juga di hakimi. Perempuan ibu rumah tangga adalah perempuan yang hanya menganggur di rumah. Tapi sebenarnya perempuan yang berkarir atau memilih menjadi ibu rumah tangga itu adalah hak mereka sendiri bebas ingin memilih yang mana dalam kehidupannya. Memilih sebagai perempuan berkarir dengan posisi sudah menikah dan punya anak pun boleh asalkan sebagai perempuan juga bisa mengatur dengan baik tidak hanya waktu untuk bekerja saja tetapi bisa mengatur waktu dengan keluarganya. Memilih sebagai ibu rumah tangga pun diperbolehkan.

Perempuan yang sudah menikah seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya pasti ada saja yang masih di hakimi oleh masyarakat, apalagi perempuan yang belum menikah juga banyak sekali dihakimi oleh banyak orang dan banyak serangan tekanan dalam diri perempuan. Terkadang perempuan yang belum menikah disuruh untuk tidak terlalu pintar dan sukses karena nanti susah akan mendapat jodoh. Banyak sekali pertanyaan perempuan yang sudah beranjak masuk usia 20-30 tahun, perempuan sering kali ditanya mengenai calon pasangannya seperti pertanyaan kapan menikah?. Di Indonesia sudah menjadi bahan pembahasan bahwa perempuan ketika mencapai usia tertentu namun belum menikah, maka perempuan dianggap sebagai perawan tua atau bahkan terucap ungkapan “tidak laku” dan lain sebagainya.

Tekanan lain seksisme yang dialami pada perempuan yaitu tekanan pada memiliki anak, perempuan yang sudah menikah pun tuntutan lingkungan tidak berhenti sampai disitu saja. Perempuan terkadang ditanya-tanya, kapan mempunyai anak. Jika belum juga mempunyai anak ungkapan “mandul” lebih banyak dilabeli kepada perempuan daripada laki-laki yang seakan-akan memang yang sulit tidak bisa mempunyai anak adalah dari seorang perempuan. Terdapat lagi ungkapan bahwa perempuan jika sudah menikah dan belum dikarunai anak maka perempuan tersebut belum menjadi 100% sebagai istri dan calon seorang ibu, karena belum tahu rasanya melahirkan. Dengan banyak gencaran tentang seksisme pada perempuan sudah saatnya kita membuka pikiran kita memandang seorang perempuan hanya dipandang sebelah mata.

Kita ambil inspirasi dari Raden Ayu Kartini, sejak puluhan tahun lalu, seorang perempuan kelahiran Jepara bernama Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat Raden Ayu Kartini telah memperjuangkan kebebasan dan hak seorang perempuan, termasuk di bidang pendidikan. Perempuan pelopor kebangkitan perempuan pribumi tersebut adalah inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk terus berkarya dan bebas menjalani hidup yang dipilihnya. Dengan adanya pelopor dari Raden Ayu Kartini kita semua sebagai perempuan sudah bisa bergerak bebas untuk menghasilkan karya contohnya kita sebagai perempuan sudah bisa bersekolah, bisa ekspor dunia luar yang mana wanita sekarang sudah bisa mencari jati dirinya ada yang menuangkan hobi dan cita-cita sebagai profesi dokter, guru, insyiyur, polisi dan masih banyak lagi.

Sudah muncul beberapa figur-figur perempuan yang dapat menjadi motivasi kemajuan partisipasi dan eksistensi perempuan dalam berbagai bidang. Sebut saja Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani Indrawati, Najwa Shihab, Tri Rismaharini, dan beberapa perempuan lainnya yang menjadi tokoh-tokoh perempuan inspiratif dan berprestasi di bidangnya masing-masing, seperti pebisnis, pejabat dan lainnya. Tak heran, tokoh-tokoh perempuan inspiratif tersebut disebut-sebut sebagai Kartini masa kini yang menjadi teladan tentang kecerdasan, profesionalisme hingga kemandirian.

Memang sudah seharusnya seorang perempuan memiliki hak yang sama dengan seorang laki-laki tanpa memandang seksisme antara kedua gender. Maka jadilah sosok perempuan yang selalu maju, bersemangat dan bisa memilih serta memilah dengan baik jalan hidup yang akan dipilih. Seperti semboyan RA Kartini “Aku Mau”, maka dapat menginspirasi semua perempuan berkarir maupun perempuan sebagai ibu rumah tangga untuk terus maju dan lebih inovatif serta kreatif. Mari semua perempuan hebat teruslah berusaha dan berkarya dengan rasa hormat. Karena pada dasarnya seorang perempuan dan seorang laki-laki dianggap sama di mata Tuhan. Jadi memang sudah pantas kedudukan seorang perempuan dianggap sebagai mitra seorang laki-laki yang kedepannya akan menjadi penunjang kesuksesan bagi seorang laki-laki maupun bagi seorang perempuan.

    Profil
Iftitah Rahman 
Motto (Meskipun dipatahkan beberapa kali oleh
dunia tetap semangat dan berusaha karena semua
sudah ada porsinya masing-masing)

Jangan Lupa Suport Kami, Klik Link dibawah ini 👇

https://msha.ke/cahayaaurora



0Komentar

Special Ads